Tanggapi dengan Sindiran Halus, Wali Kota Malang Nikmati 'Desa Malang' di Matos

Reporter

Riski Wijaya

12 - Mar - 2026, 05:31

Wali Kota Malang Wahyu Hidayat nampak keasikan bermain dakonan di sudut tematik "Desa Malang" yang ada di Malang Townsquare.(Foto: Riski Wijaya/MalangTIMES).

JATIMTIMES - Wali Kota Malang Wahyu Hidayat menanggapi santai viralnya konten media sosial yang menyebut Kota Malang sebagai “Desa Malang”. Hal itu ia sampaikan saat mengunjungi area tematik “Desa Malang” di lantai 1 Malang Town Square (Matos), Rabu (12/3/2026).

Area tersebut memang menghadirkan konsep suasana kampung tempo dulu. Berbagai elemen khas desa ditampilkan, mulai dari dingklik atau kursi kecil, meja rendah, hingga jajanan tradisional yang identik dengan kehidupan masyarakat Malang pada masa lampau.

Baca Juga : Dampak Perjanjian Perdagangan RI-AS Dinilai Mengancam Industri Pers Nasional, AJI: Media Bisa Dikuasai Asing

Dekorasi di area tersebut juga dibuat menyerupai lingkungan pedesaan yang asri. Latar rumah kayu dipadukan dengan lantai berlapis rumput sintetis, sehingga pengunjung seolah sedang bersantai di halaman rumah desa.

Saat meninjau lokasi, Wahyu tampak menikmati suasana yang dihadirkan. Ia bahkan sempat membeli gelas enamel, peralatan minum yang identik dengan kehidupan masyarakat tempo dulu.

Suasana semakin cair ketika Wahyu ikut memainkan dakonan, permainan tradisional yang dulu populer di kalangan anak-anak. Ia memainkan permainan tersebut bersama sejumlah pejabat Pemerintah Kota Malang dan manajemen Matos.

Di tengah suasana santai itu, Wahyu sempat berkelakar menyinggung konten viral yang menyebut Malang sebagai desa. “Desa Malang di (mall) Malang yang terkecil di dunia,” ujarnya sambil tertawa.

Pernyataan tersebut merujuk pada video pendek dari akun TikTok @caeinmotion yang sempat ramai di media sosial. Dalam video itu, pemilik akun menyebut Malang sebagai “Desa Malang” sekaligus menyebut Matos sebagai mal terkecil di dunia.

Saat ini, pemilik akun telah men-takedown unggahan tersebut. Namun sayangnya, video yang menyita perhatian warganet itu telah banyak direpost oleh netizen, sehingga masih dengan mudah dijumpai. 

Konten tersebut sempat menuai beragam reaksi dari warganet, termasuk kritik dari sejumlah warga Malang.

Baca Juga : Pemkot Batu Terbitkan SE Larangan Gratifikasi: ASN Dilarang Minta THR Hingga Mudik Pakai Mobil Dinas

Meski begitu, Wahyu menilai konsep “Desa Malang” yang dihadirkan di Matos justru memiliki pesan positif, yakni mengingatkan kembali masyarakat pada suasana Malang di masa lalu.

“Konsepnya ini seperti menolak lupa. Kita kembali ke Malang yang dulu seperti apa. Permainan-permainan seperti ini ingin kita semarakkan lagi,” jelasnya.

Melalui konsep tersebut, pengunjung tidak hanya berbelanja, tetapi juga dapat merasakan kembali nuansa kebersamaan dan permainan tradisional yang pernah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Malang.

Sebagai informasi, kunjungannya tersebut ia lakukan saat meninjau Hypermart di Matos. Tinjauan itu difokuskan pada produk-produk yang dikemas menjadi paket parcel lebaran. Ia berusaha memastikan agar seluruh produk dalam kondisi yang jauh dari masa kedaluwarsa.